Di dunia ini ayahku adalah satu-satunya orang yang menjadi
orang yang ku kagumi.
Tegas, baik, perhatian terhadap anaknya.
Walaupun gaya berbicaranya yang seperti seorang bos yang
sedang mengintimidasi bawahannya.
Dibalik segala perkataan nya sudah pasti adalah hal yang
bermanfaat bagi kami anak2 nya.
Walaupun sudah kebiasaan nya yang selalu mengusahakan
pendapatnya selalu benar, apapun pendapat yang kami utarakan selalu saja dibantah
nya.
Dulu ketika saya masih kecil kami masih tinggal di aceh, lebih tepatnya desa
Jamuan yang terdapat di kota lhouksemawe.
Saat itu Gerakan Aceh Merdeka masih bergejolak dengan
dahsyat nya.
suatu malam diasaat saya, ayah saya, ibu saya beserta, kakak saya
tercinta Suci Khairunisa Nabilla sedang menonton film kesukaan keluarga kami
yaitu titanic, terdengar suara letusan senjata api di dekat rumah kami.
Dengan sigap ayah saya langsung memerintah kami untuk segera
menuju ke ruang keluarga, sesampainya disana ayah saya langsung mengatkan
kepada kami “ be (pangilaan sayang untuk kakak saya), mama cepat majukan
lemarinya! Supaya bisa jadi tameng untuk kita” setelah memerintahkan hal itu
dia berguling menuju ke bagasi untuk memeriksa pintunya telah terkunci atau
tidak.
“ayah saya adalah seseorang yang rela mengorbankan nyawanya
demi keluarganya”
Pada setiap hari minggu dia tidak pernah lupa untuk mengajak
kami rekreasi mau itu ke pantai, belanja ke kota, berenang ke sungai, tapi
diantara semuanya hal yang saya paling sukai adalah di saat dia mengajak saya
membeli kaset ps 1 (saya adalah seseorang penggila game) dan dengan sabar menunggu
saya memilih kaset yang saya inginkan sambil tersenyum kepada saya.
“ayah saya adalah orang yang memperhatikan kebahaagiaan
keluarganya”
Pada suatu malam di hari selasa ketika ayah saya sedang
mengurusi bunga2 kesukaan nya tampa sengaja dia melihat sesosok perempuan yang
dia sangka adalah tetangga kami lalu dia dia mengatakan.
“sedang apa buk?” tanyanya
“buk kok diem aja?” Tanyanya lagi
Tiba-tiba perempuan itu tertawa dan pergi dengan cara
berjalan yang hamper mirip dengan terbang, sentak saja ayah saya lari
terbirit-birit ke dalam rumah. Ketika di dalam rumah ibu saya bertanya kepada
ayah saya “papa melihat apa?” “gak ada” jawabnya. Padahal ibu saya sudah pernah
bilang kepada ayah saya bahwa pada sewaktu maghrib jangan suka keluar dari
rumah, karena ibu saya sudah sering melihat penampakan disitu.
“ayah saya adalah orang yang tak ingin menampakan
kelemahannya di depan orang yang ia cintai”
Itulah point-point yang saya sukai dari ayah saya. Walaupun dia
sekarang sedang sakit keras yang saya ketahui adalah batu ginjal, dia selalu
menjemput saya dari asrama dan mengantar saya kembali ke asrama walaupun dengan
keadaan kesehatan yang sedang buruk.
dia yang mengajari saya bagaimana menjadi seseorang ayah sekaligus pemimpin yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar