Selasa, 11 Maret 2014

My Dearest Father



Di dunia ini ayahku adalah satu-satunya orang yang menjadi orang yang ku kagumi.

Tegas, baik, perhatian terhadap anaknya.

Walaupun gaya berbicaranya yang seperti seorang bos yang sedang mengintimidasi bawahannya.

Dibalik segala perkataan nya sudah pasti adalah hal yang bermanfaat bagi kami anak2 nya.

Walaupun sudah kebiasaan nya yang selalu mengusahakan pendapatnya selalu benar, apapun pendapat yang kami utarakan selalu saja dibantah nya.

Tak pernah sekali pun aku membencinya malah aku sangat mencintainya.

Dulu ketika saya masih kecil kami masih tinggal di aceh, lebih tepatnya desa Jamuan yang terdapat di kota lhouksemawe.
Saat itu Gerakan Aceh Merdeka masih bergejolak dengan dahsyat nya.
suatu malam diasaat saya, ayah saya, ibu saya beserta, kakak saya tercinta Suci Khairunisa Nabilla sedang menonton film kesukaan keluarga kami yaitu titanic, terdengar suara letusan senjata api di dekat rumah kami.
Dengan sigap ayah saya langsung memerintah kami untuk segera menuju ke ruang keluarga, sesampainya disana ayah saya langsung mengatkan kepada kami “ be (pangilaan sayang untuk kakak saya), mama cepat majukan lemarinya! Supaya bisa jadi tameng untuk kita” setelah memerintahkan hal itu dia berguling menuju ke bagasi untuk memeriksa pintunya telah terkunci atau tidak.

“ayah saya adalah seseorang yang rela mengorbankan nyawanya demi keluarganya”

Pada setiap hari minggu dia tidak pernah lupa untuk mengajak kami rekreasi mau itu ke pantai, belanja ke kota, berenang ke sungai, tapi diantara semuanya hal yang saya paling sukai adalah di saat dia mengajak saya membeli kaset ps 1 (saya adalah seseorang penggila game) dan dengan sabar menunggu saya memilih kaset yang saya inginkan sambil tersenyum kepada saya.

“ayah saya adalah orang yang memperhatikan kebahaagiaan keluarganya”

Pada suatu malam di hari selasa ketika ayah saya sedang mengurusi bunga2 kesukaan nya tampa sengaja dia melihat sesosok perempuan yang dia sangka adalah tetangga kami lalu dia dia mengatakan.

“sedang apa buk?” tanyanya

“buk kok diem aja?” Tanyanya lagi

Tiba-tiba perempuan itu tertawa dan pergi dengan cara berjalan yang hamper mirip dengan terbang, sentak saja ayah saya lari terbirit-birit ke dalam rumah. Ketika di dalam rumah ibu saya bertanya kepada ayah saya “papa melihat apa?” “gak ada” jawabnya. Padahal ibu saya sudah pernah bilang kepada ayah saya bahwa pada sewaktu maghrib jangan suka keluar dari rumah, karena ibu saya sudah sering melihat penampakan disitu.

“ayah saya adalah orang yang tak ingin menampakan kelemahannya di depan orang yang ia cintai”

Itulah point-point yang saya sukai dari ayah saya. Walaupun dia sekarang sedang sakit keras yang saya ketahui adalah batu ginjal, dia selalu menjemput saya dari asrama dan mengantar saya kembali ke asrama walaupun dengan keadaan kesehatan yang sedang buruk.
dia yang mengajari saya bagaimana menjadi seseorang ayah sekaligus pemimpin yang baik.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar